Rio adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang baru saja kembali ke kampung halamannya setelah menyelesaikan kuliah di kota besar. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran desa, di mana kehidupan masih tenang dan penuh dengan rutinitas sehari-hari. Sebagai anak tunggal, Rio sering membantu ayahnya mengelola toko kelontong kecil di pasar desa. Pagi itu, seperti biasa, dia membuka toko lebih awal, menyusun barang dagangan, dan menunggu pelanggan pertama.
Desa itu dikenal dengan masyarakatnya yang religius, di mana banyak wanita mengenakan jilbab sebagai bagian dari keseharian mereka. Salah satu pelanggan tetap adalah Ibu Rini, seorang wanita berusia 38 tahun yang tinggal tidak jauh dari toko Rio. Ibu Rini adalah istri dari Pak Hadi, seorang petani yang sering bepergian ke kota untuk menjual hasil panen. Mereka memiliki dua anak yang sudah remaja, dan Ibu Rini dikenal sebagai sosok yang ramah, sopan, dan selalu berpakaian rapi dengan jilbab panjang yang menutupi dada serta rok longgar yang menyentuh mata kaki. Wajahnya cantik dengan kulit sawo matang, mata sipit yang hangat, dan senyum yang selalu menyapa siapa pun.
Hari itu, cuaca cerah tapi angin bertiup kencang, membuat daun-daun pohon bergoyang. Rio sedang menyapu halaman toko ketika melihat Ibu Rini mendekat dengan keranjang belanjaan di tangan. Jilbab biru mudanya berkibar lembut ditiup angin, menampakkan sedikit garis lehernya yang putih mulus sebelum dia buru-buru memperbaikinya. "Pagi, Nak Rio. Ada beras baru nggak hari ini?" tanyanya dengan suara lembut, sambil tersenyum.
"Pagi, Bu Rini. Ada, nih, yang baru datang kemarin. Mau berapa kilo?" jawab Rio, sambil mencoba tidak terlalu memperhatikan bagaimana tubuh Ibu Rini yang montok terlihat di balik baju kurung longgarnya. Rio sudah lama memperhatikan Ibu Rini. Sejak remaja, dia sering mencuri pandang ke arahnya saat Ibu Rini berbelanja. Ada sesuatu yang menarik dari wanita itu – campuran antara kesopanan dan daya tarik alami yang membuat jantung Rio berdegup lebih kencang.
Mereka mengobrol sebentar tentang cuaca dan harga barang, tapi Rio merasa ada yang berbeda hari ini. Ibu Rini tampak lebih santai, matanya sesekali menatap Rio lebih lama dari biasanya. "Suami lagi ke kota ya, Bu?" tanya Rio sambil menimbang beras.
"Iya, Nak. Mungkin baru pulang besok malam. Anak-anak juga lagi di sekolah. Sendirian di rumah, nih," jawab Ibu Rini dengan nada yang sedikit menggoda, meski dia segera menunduk, seolah malu dengan kata-katanya sendiri.
Rio tersenyum dalam hati. Ini kesempatan, pikirnya. Setelah membayar, Ibu Rini berpamitan, tapi sebelum pergi, dia berkata, "Eh, Nak Rio, kalau ada waktu luang, mampir ke rumah ya. Ibu lagi bikin kue, bisa dicicipin."
Rio mengangguk antusias. "Siap, Bu. Nanti sore aja ya, setelah toko tutup."
Sepanjang hari, pikiran Rio melayang ke Ibu Rini. Dia membayangkan bagaimana rasanya berada dekat dengan wanita itu, mencium aroma tubuhnya yang selalu wangi sabun mandi. Sore harinya, setelah menutup toko, Rio mandi dan berganti pakaian rapi. Dia berjalan kaki ke rumah Ibu Rini, yang terletak di ujung gang kecil, dikelilingi pepohonan mangga.
Sampai di sana, pintu rumah sudah terbuka. "Assalamualaikum," sapa Rio.
"Waalaikumsalam, masuk Nak," jawab Ibu Rini dari dalam. Dia muncul di ruang tamu dengan jilbab yang sama, tapi kali ini bajunya agak basah di bagian dada karena baru saja mencuci piring. "Duduk dulu, Ibu ambilkan kue."
Rio duduk di sofa tua, memandang sekeliling rumah yang sederhana tapi bersih. Ibu Rini kembali dengan nampan berisi kue lumpur dan teh hangat. Mereka mengobrol tentang kehidupan desa, tapi perlahan obrolan beralih ke hal yang lebih pribadi. "Nak Rio belum punya pacar ya? Ganteng begini kok masih sendirian," goda Ibu Rini sambil tertawa kecil.
Rio tersipu. "Belum, Bu. Sibuk kuliah dulu. Lagian, cewek di desa ini kan banyak yang sudah pada nikah."
Ibu Rini mengangguk. "Iya, seperti Ibu ini. Nikah muda, sekarang anak sudah besar. Tapi kadang-kadang, rasanya seperti kehilangan masa muda, tahu."
Suasana mulai memanas. Rio merasa ada ketegangan di udara. Dia berani memuji, "Bu Rini masih cantik kok. Malah makin matang."
Ibu Rini tersenyum, pipinya memerah di balik jilbab. "Ah, Nak Rio bisa aja. Ibu sudah tua ini."
Mereka diam sejenak, mata saling bertemu. Rio merasa dorongan untuk mendekat. "Bu, boleh nggak kalau Rio bilang, Bu Rini punya daya tarik yang beda. Kayak... misterius gitu, dengan jilbabnya."
Ibu Rini menunduk, tapi senyumnya melebar. "Misterius gimana? Ibu kan biasa aja."
Rio maju selangkah, duduk lebih dekat. "Iya, misterius. Bikin penasaran apa yang ada di baliknya."
Hati Ibu Rini berdegup kencang. Sudah lama dia tidak merasakan perhatian seperti ini dari seorang pria muda. Suaminya sibuk dengan pekerjaan, dan kehidupan rumah tangga mereka sudah seperti rutinitas. "Nak Rio... jangan gitu. Ibu kan sudah bersuami."
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan. Rio menyentuh tangan Ibu Rini dengan lembut. "Cuma ngobrol aja, Bu. Nggak ada yang tahu."
Ibu Rini tidak menarik tangannya. Malah, dia memegang tangan Rio lebih erat. "Ibu... Ibu merasa kesepian kadang-kadang."
Itu sinyal yang Rio tunggu. Dia mendekatkan wajahnya, mencium pipi Ibu Rini yang lembut. Ibu Rini menutup mata, napasnya memburu. "Nak... ini salah..."
Tapi bibir mereka bertemu. Ciuman pertama itu lembut, penuh keraguan. Rio merasakan kehangatan bibir Ibu Rini, yang lembab dan manis seperti madu. Tangan Rio naik ke leher Ibu Rini, menyentuh kulit di balik jilbab. Ibu Rini menggigil, tapi tidak menolak.
Mereka berciuman lebih dalam, lidah saling bertaut. Rio merasakan tubuh Ibu Rini yang montok menempel padanya. Payudaranya yang besar terasa empuk di dada Rio. "Bu... kamu cantik sekali," bisik Rio di telinga Ibu Rini.
Ibu Rini membuka mata, napasnya tersengal. "Nak... kita ke kamar aja. Takut ada yang lihat."
Mereka bangun, berpegangan tangan menuju kamar tidur. Di dalam, Ibu Rini menutup pintu dan mengunci. Cahaya sore masuk melalui jendela tipis, menerangi tubuhnya. Rio mendekat lagi, mencium leher Ibu Rini sambil tangannya merayap ke pinggang.
"Perlahan, Nak," bisik Ibu Rini. Tapi tubuhnya merespons, pinggulnya bergoyang pelan.
Rio membuka kancing baju kurung Ibu Rini satu per satu. Di baliknya, ada bra hitam yang menahan payudara besarnya. Jilbab masih menutupi rambutnya, tapi Rio tidak melepasnya – itu bagian dari daya tariknya. "Biarkan jilbabnya, Bu. Bikin lebih seksi."
Ibu Rini tersenyum malu. Dia membiarkan Rio melepas roknya, meninggalkan celana dalam putih yang sudah basah. Tubuh Ibu Rini telanjang di depan Rio, kulitnya halus dengan sedikit stretch mark dari kehamilan, tapi itu justru membuatnya lebih nyata dan menggoda.
Rio melepas bajunya sendiri, memperlihatkan tubuh atletisnya yang berotot dari kerja di toko. Mereka berpelukan di atas ranjang, tubuh saling menempel. Rio mencium payudara Ibu Rini melalui bra, lidahnya menjilat puting yang mengeras. Ibu Rini mendesah pelan, "Ah... Nak... enak..."
Tangan Rio turun ke selangkangan Ibu Rini, menyentuh melalui celana dalam. Dia merasakan kelembaban di sana, jarinya menggosok perlahan. Ibu Rini menggeliat, pinggulnya naik-turun. "Nak... jangan berhenti..."
Rio melepas bra Ibu Rini, payudara besar itu terbebas, puting cokelatnya tegak. Dia menyusupinya, mengisap dengan rakus sambil tangannya terus menggosok. Ibu Rini meraih rambut Rio, menekan kepalanya lebih dalam. "Ya... seperti itu... lebih kuat..."
Napas mereka semakin cepat. Rio melepas celana dalam Ibu Rini, melihat vagina yang sudah basah dan siap. Bulu-bulu halus di sekitarnya membuatnya terlihat alami. Rio menurunkan kepalanya, lidahnya menjilat klitoris Ibu Rini dengan lembut dulu, lalu semakin cepat.
Ibu Rini menjerit kecil, "Oh... Nak Rio... enak sekali... jangan berhenti..." Tubuhnya menggelinjang, cairan hangat mengalir dari dalamnya.
Setelah Ibu Rini orgasme pertama, Rio naik ke atasnya. Penisnya yang sudah keras menempel di perut Ibu Rini. "Bu... boleh masuk?"
Ibu Rini mengangguk, matanya penuh nafsu. "Masuk aja, Nak. Pelan-pelan."
Rio memasukkan penisnya perlahan, merasakan kehangatan dan kekencangan vagina Ibu Rini. Meski sudah bersuami, tubuhnya masih rapat, mungkin karena jarang berhubungan akhir-akhir ini. "Ah... Bu... enak sekali..."
Mereka bergerak bersama, Rio mendorong maju mundur dengan ritme lambat dulu. Ibu Rini memeluk punggung Rio, kuku-kukunya mencakar pelan. "Lebih cepat, Nak... lebih dalam..."
Rio mempercepat, suara benturan tubuh mereka memenuhi kamar. Payudara Ibu Rini bergoyang-goyang, jilbabnya sedikit bergeser tapi masih menutupi rambutnya. Itu membuat pemandangan semakin erotis – wanita berjilbab yang sopan, tapi di ranjang begitu liar.
Ibu Rini membalikkan posisi, naik ke atas Rio. Dia menggerakkan pinggulnya naik-turun, tangannya memegang dada Rio. "Sekarang giliran Ibu..." katanya sambil tersenyum nakal.
Rio meremas pantat Ibu Rini yang bulat, membantu gerakannya. Vagina Ibu Rini memijat penis Rio dengan sempurna, membuatnya hampir mencapai puncak. "Bu... aku mau keluar..."
Ibu Rini mempercepat, "Keluar di dalam aja, Nak. Ibu aman."
Akhirnya, Rio menyemprotkan sperma di dalam Ibu Rini, sementara Ibu Rini orgasme lagi, tubuhnya bergetar. Mereka berpelukan, napas tersengal.
Setelah itu, mereka berbaring berdampingan. Ibu Rini memperbaiki jilbabnya, tersenyum malu. "Ini rahasia kita ya, Nak."
Rio mengangguk. "Iya, Bu. Tapi... kita bisa ulang lagi?"
Ibu Rini tertawa kecil. "Lihat nanti. Suami pulang besok."
Malam itu, Rio pulang dengan pikiran penuh. Ini baru awal dari cerita mereka.