Asiknya Rekan Sekantor

x


Di sebuah gedung perkantoran di pusat kota Jakarta, suasana kantor PT. Maju Jaya selalu ramai dengan hiruk-pikuk karyawan yang sibuk dengan tugas masing-masing. Doni, seorang pria berusia 28 tahun, adalah salah satu karyawan di divisi marketing. Tubuhnya atletis, dengan rambut pendek rapi dan senyum yang selalu menawan. Dia dikenal sebagai cowok yang ramah, tapi di balik itu, Doni punya sisi petualang yang jarang diketahui orang. Sebagai anak bujang, hidupnya penuh dengan kebebasan, tapi akhir-akhir ini, pikirannya sering teralihkan oleh seorang rekan kerjanya: Mbak Devi.

Mbak Devi, atau lengkapnya Devi Susanti, berusia 32 tahun. Dia adalah senior di divisi yang sama, sudah menikah selama lima tahun dengan seorang pengusaha kecil yang sering bepergian ke luar kota. Mbak Devi selalu tampil sopan dengan jilbab panjangnya yang menutupi dada, baju gamis longgar, dan rok panjang yang menyentuh mata kaki. Wajahnya cantik alami, dengan kulit sawo matang yang halus, mata sipit yang tajam, dan bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Tapi bagi Doni, ada sesuatu yang memikat dari Mbak Devi. Mungkin aura dewasa yang dia pancarkan, atau mungkin cara dia bergerak dengan anggun meski tertutup rapat. Doni sering mencuri pandang saat Mbak Devi berjalan melewati meja kerjanya, membayangkan apa yang tersembunyi di balik kain jilbab itu.

Hari itu adalah Jumat biasa, tapi bagi Doni, ada yang berbeda. Proyek besar yang mereka kerjakan bersama membuat mereka harus lembur. Kantor mulai sepi sekitar pukul enam sore, dan hanya tersisa beberapa orang termasuk Doni dan Mbak Devi. Mereka duduk berseberangan di ruang meeting, membahas laporan akhir. Udara AC yang dingin membuat ruangan terasa intim, hanya ditemani suara ketikan keyboard dan hembusan angin dari ventilasi.

"Don, ini data penjualannya kurang lengkap. Kamu bisa cek lagi nggak?" tanya Mbak Devi sambil menatap layar laptopnya. Suaranya lembut, tapi ada nada tegas yang membuat Doni selalu hormat padanya.

"Iya, Mbak. Sebentar ya," jawab Doni sambil bangun dari kursinya dan mendekat ke sisi Mbak Devi. Dia berdiri di belakangnya, membungkuk sedikit untuk melihat layar. Saat itu, Doni mencium aroma parfum Mbak Devi yang ringan, campuran mawar dan vanila yang lembut. Jarak mereka begitu dekat, hingga lengan Doni hampir menyentuh bahu Mbak Devi. Doni merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat.

Mbak Devi merasa ada yang aneh. Biasanya Doni profesional, tapi hari ini tatapannya berbeda. "Eh, Don, kamu kok deket banget sih?" goda Mbak Devi sambil tersenyum tipis, tapi matanya tetap fokus ke layar.

Doni tersenyum malu-malu. "Maaf, Mbak. Cuma mau lihat jelas aja. Ini, data ini yang kurang. Aku tambahin ya."

Mereka melanjutkan kerja, tapi suasana mulai berubah. Obrolan mereka melenceng dari pekerjaan ke hal-hal pribadi. Mbak Devi bercerita tentang suaminya yang lagi di Bandung untuk bisnis, dan Doni mendengarkan dengan penuh perhatian. "Suami Mbak sering banget keluar kota ya? Nggak kesepian?" tanya Doni setengah bercanda.

Mbak Devi tertawa kecil. "Biasa aja, Don. Sudah lima tahun gini. Kamu sendiri gimana? Masih jomblo? Kok nggak cari pacar?"

Doni menggeleng. "Belum ada yang cocok, Mbak. Mungkin karena aku suka yang lebih dewasa," katanya sambil menatap Mbak Devi langsung. Ada kilatan di mata Mbak Devi, tapi dia cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka akhirnya selesai. Kantor sudah benar-benar sepi, hanya petugas keamanan di lantai bawah. "Mbak, mau pulang bareng nggak? Aku bawa mobil," tawaran Doni.

Mbak Devi ragu sejenak. Suaminya memang lagi tidak di rumah, dan malam ini hujan deras di luar. "Ya udah, deh. Makasih ya, Don."

Di mobil Doni, perjalanan pulang menjadi momen yang tak terduga. Hujan makin deras, membuat jalanan macet. Mereka terjebak di tengah kemacetan, dan obrolan pun mengalir. Doni memutar musik lembut, lagu-lagu romantis yang membuat suasana semakin hangat. "Mbak Devi cantik banget hari ini," puji Doni tiba-tiba.

Mbak Devi tersipu. "Ah, Don. Jangan gombal deh. Aku kan sudah berumah tangga."

"Tapi bener, Mbak. Jilbabnya bikin Mbak tambah anggun. Kayak misterius gitu," lanjut Doni, suaranya lebih rendah.

Mbak Devi merasa ada getaran aneh di dadanya. Sudah lama suaminya tidak memuji seperti itu. "Don, kamu ini nakal ya," balasnya sambil tertawa, tapi tangannya memainkan ujung jilbabnya nervously.

Mereka tiba di apartemen Mbak Devi sekitar pukul sembilan. Hujan masih deras, dan Mbak Devi mengundang Doni masuk sebentar untuk berteduh. "Masuk dulu, Don. Tunggu hujan reda."

Doni setuju, dan mereka masuk ke apartemen yang sederhana tapi nyaman. Ruang tamu dengan sofa empuk, dinding berwarna krem, dan aroma kopi yang samar. Mbak Devi melepas sepatunya, dan Doni duduk di sofa. "Mau minum apa, Don? Kopi atau teh?"

"Kopi aja, Mbak. Hitam, tanpa gula."

Saat Mbak Devi ke dapur, Doni memperhatikannya. Gerakannya anggun, pinggulnya bergoyang pelan di balik gamis longgar. Doni merasa hasratnya mulai bangkit. Ketika Mbak Devi kembali dengan dua cangkir kopi, dia duduk di sebelah Doni, jarak mereka cukup dekat.

Mereka ngobrol lagi, tapi kali ini lebih intim. Doni bercerita tentang kehidupan lajangnya, dan Mbak Devi mendengarkan sambil sesekali menyentuh lengannya. "Don, kamu tahu nggak, kadang aku iri sama kamu. Bebas kemana-mana," kata Mbak Devi.

Doni menatap matanya. "Mbak juga bisa bebas kok, kalau mau."

Ada diam sejenak. Doni mendekatkan wajahnya, dan Mbak Devi tidak mundur. Bibir mereka bertemu dalam ciuman pertama yang lembut. Mbak Devi terkejut, tapi tubuhnya merespons. Ciuman itu semakin dalam, lidah mereka saling menari. Tangan Doni menyusup ke balik jilbab Mbak Devi, merasakan rambut panjangnya yang lembut.

"Don... ini salah," gumam Mbak Devi di sela ciuman, tapi tangannya malah memeluk leher Doni.

"Tapi Mbak suka kan?" bisik Doni sambil mencium lehernya.

Mbak Devi mengangguk lemah. Mereka berpindah ke kamar tidur. Mbak Devi duduk di tepi ranjang, jantungnya berdegup kencang. Doni berdiri di depannya, melepas kemejanya perlahan. Tubuh Doni yang berotot terlihat jelas, membuat Mbak Devi menelan ludah.

Doni mendekat, tangannya menyentuh wajah Mbak Devi. "Mbak, boleh aku lihat kamu?" tanyanya lembut.

Mbak Devi ragu, tapi hasratnya sudah membara. Dia melepas pin jilbabnya, dan jilbab itu jatuh ke belakang, memperlihatkan rambut hitam panjang yang bergelombang. Wajahnya semakin cantik tanpa penutup. Doni menciumnya lagi, tangannya turun ke kancing gamis Mbak Devi.

Satu per satu kancing dilepas, gamis itu terbuka, memperlihatkan bra hitam yang membungkus payudara Mbak Devi yang montok. Ukuran 36C, bentuknya bulat sempurna, dengan puting yang sudah mengeras karena gairah. Doni menarik gamis itu ke bawah, dan Mbak Devi berdiri, membiarkan roknya jatuh. Sekarang dia hanya memakai bra dan celana dalam hitam yang tipis.

"Don... aku malu," kata Mbak Devi sambil menutupi dadanya.

"Jangan, Mbak. Kamu indah banget," puji Doni sambil menarik tangannya.

Doni melepas bra Mbak Devi, payudara itu terbebas, bergoyang pelan. Putingnya cokelat kehitaman, mengeras seperti kacang. Doni langsung menyentuhnya, meremas lembut, jarinya memainkan puting itu. Mbak Devi mendesah, "Ahh... Don..."

Doni mendorong Mbak Devi ke ranjang, tubuhnya menindih. Dia mencium payudara Mbak Devi, lidahnya menjilat puting kiri, sementara tangan kanannya meremas yang kanan. Mbak Devi menggelinjang, tangannya meraih rambut Doni. "Don... enak... terus..."

Doni turun lebih bawah, mencium perut Mbak Devi yang rata, lalu ke pinggul. Tangannya menarik celana dalam Mbak Devi perlahan. Vagina Mbak Devi terlihat, berbulu tipis yang rapi, bibirnya sudah basah oleh cairan gairah. Doni menyentuhnya, jarinya menyusuri klitoris yang sensitif.

"Don... jangan... aku belum pernah..." gumam Mbak Devi, tapi kakinya malah membuka lebih lebar.

Doni tersenyum, lidahnya mulai menjilat vagina Mbak Devi. Rasa asin manis, lidahnya berputar di klitoris, membuat Mbak Devi berteriak pelan. "Ahh... Don... enak sekali... ohh..."

Doni memasukkan satu jari ke dalam vagina Mbak Devi, merasakan dinding yang hangat dan basah. Mbak Devi menggeliat, pinggulnya bergoyang mengikuti irama. "Don... lebih dalam... ya..."

Doni menambah satu jari lagi, memompa perlahan sambil lidahnya terus menjilat. Mbak Devi mencapai orgasme pertama, tubuhnya menegang, cairan hangat menyembur keluar. "Aku... keluar... Don!"

Doni bangun, melepas celananya. Penisnya sudah tegang, panjang sekitar 17 cm, tebal dengan urat-urat yang menonjol. Mbak Devi melihatnya dengan mata melebar. "Don... besar sekali..."

Doni mendekat, menggesekkan penisnya ke vagina Mbak Devi. "Mbak siap?"

Mbak Devi mengangguk. Doni mendorong pelan, kepala penisnya masuk, merasakan vagina Mbak Devi yang ketat. "Ahh... Mbak... enak banget..."

Doni mendorong lebih dalam, sampai seluruhnya masuk. Mbak Devi mendesah panjang, "Ohh... penuh... Don..."

Mereka mulai bergerak, Doni memompa perlahan dulu, lalu semakin cepat. Payudara Mbak Devi bergoyang-goyang, Doni meremasnya sambil mencium bibir Mbak Devi. "Mbak... vagina Mbak enak... ketat..."

Mbak Devi membalas, pinggulnya ikut bergoyang. "Don... lebih cepat... ahh... enak..."

Posisi berganti, Mbak Devi di atas. Dia naik turun di penis Doni, tangannya bertumpu di dada Doni. Payudaranya bergoyang liar, putingnya mengeras. Doni meraih pinggul Mbak Devi, membantu gerakannya. "Mbak... cepat... ya..."

Mbak Devi orgasme lagi, tubuhnya bergetar. "Don... aku lagi... ahh!"

Doni membalikkan tubuh Mbak Devi, sekarang doggy style. Dia memompa dari belakang, tangannya meremas pantat Mbak Devi yang bulat. "Mbak... pantat Mbak seksi banget..."

Mbak Devi mengerang, "Don... dalam... pukul... ahh..."

Doni semakin cepat, merasakan klimaks mendekat. "Mbak... aku mau keluar..."

"Keluar di dalam aja, Don... aku aman," bisik Mbak Devi.

Doni menyemburkan spermanya di dalam vagina Mbak Devi, hangat dan banyak. Mereka ambruk ke ranjang, berpelukan sambil bernapas tersengal.

Tapi malam itu belum berakhir. Setelah istirahat sebentar, hasrat mereka bangkit lagi. Doni mencium seluruh tubuh Mbak Devi, dari kaki sampai paha. Dia menjilat vagina Mbak Devi lagi, membuatnya basah kembali. Mbak Devi balas dengan menggenggam penis Doni, mengocoknya pelan lalu memasukkannya ke mulutnya.

"Ahh... Mbak... enak... lidah Mbak hebat," desah Doni.

Mbak Devi mengisap penis Doni, lidahnya berputar di kepala, tangannya memijat buah zakar. Doni hampir keluar, tapi dia tahan. Mereka bercinta lagi, kali ini di kamar mandi. Air shower mengalir, tubuh mereka basah. Doni menempelkan Mbak Devi ke dinding, mengangkat satu kakinya, dan memasukkan penisnya.

"Don... di sini... ahh... licin... enak," rintih Mbak Devi.

Doni memompa cepat, air membasahi mereka. Payudara Mbak Devi bergoyang, putingnya digigit pelan oleh Doni. Mereka orgasme bersama, spermanya menyembur lagi.

Kembali ke ranjang, mereka berbaring telanjang, Mbak Devi memakai jilbabnya lagi untuk tidur, tapi tubuhnya tetap terbuka. "Don... ini rahasia kita ya," bisiknya.

Doni mencium keningnya. "Iya, Mbak. Tapi aku pengen lagi besok."

Mbak Devi tersenyum. Tapi di pagi hari, suami Mbak Devi menelepon, bilang dia pulang lebih cepat. Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Bersambung.. ==>>