Seminggu setelah pertemuan pertama di rumah Ibu Rini, Rio merasa seperti orang yang ketagihan. Setiap malam sebelum tidur, bayangan tubuh Ibu Rini yang montok, payudaranya yang bergoyang saat bergerak di atasnya, dan desahan lembutnya di balik jilbab selalu muncul. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengirim pesan singkat ke nomor Ibu Rini yang sudah dia simpan diam-diam.
“Bu, lagi apa?” tulis Rio suatu malam.
Tak sampai dua menit, balasan datang. “Masak buat besok. Suami lagi tidur. Kamu?”
Rio tersenyum di kegelapan kamarnya. “Pikir Bu terus.”
Ibu Rini hanya membalas dengan emoji tersenyum malu, tapi itu cukup untuk membuat Rio tahu bahwa pintu masih terbuka lebar.
Keesokan harinya, Rio sengaja menutup toko lebih awal dengan alasan stok habis. Dia berjalan ke rumah Ibu Rini, tapi kali ini tidak langsung masuk. Dia menunggu di belakang pohon mangga besar di samping rumah, sampai anak-anak Ibu Rini berangkat les sore dan Pak Hadi masih di sawah. Begitu gang sepi, Rio mengetuk pintu belakang yang sudah dibuka sedikit oleh Ibu Rini.
“Masuk cepat, Nak,” bisik Ibu Rini sambil menarik lengan Rio masuk.
Begitu pintu tertutup, mereka langsung berpelukan. Ciuman kali ini lebih ganas, penuh rindu yang tertahan. Tangan Rio langsung merayap ke bawah jilbab, meremas payudara Ibu Rini yang terasa lebih berat dari ingatannya. Ibu Rini mendesah di mulut Rio, lidah mereka saling bertaut dengan panas.
“Kita nggak ke kamar dulu?” tanya Rio sambil menggigit leher Ibu Rini pelan.
“Di sini aja… Ibu nggak tahan,” jawab Ibu Rini dengan suara serak.
Rio mendorong Ibu Rini ke dinding dapur. Dia mengangkat rok panjang Ibu Rini sampai pinggang, menemukan celana dalam hitam tipis yang sudah basah. Dengan satu gerakan, Rio menurunkannya sampai mata kaki. Jari-jarinya langsung menyentuh klitoris yang sudah membengkak, menggosoknya dengan gerakan melingkar.
“Ah… Nak… pelan… nanti Ibu jatuh,” erang Ibu Rini sambil memegang bahu Rio erat.
Rio berlutut, menyingkap rok lebih tinggi, lalu menempelkan mulutnya ke vagina Ibu Rini. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas, menekan klitoris dengan ujung lidah, lalu menyedotnya pelan. Ibu Rini menggigit bibir bawahnya agar tidak terlalu keras berteriak. Tangannya menekan kepala Rio lebih dalam, pinggulnya bergoyang maju mundur mengikuti irama lidah Rio.
“Ya Allah… enak sekali… teruskan Nak… jangan berhenti…” desah Ibu Rini.
Beberapa menit kemudian, tubuh Ibu Rini menegang. Cairan hangat menyembur pelan ke mulut Rio. Dia orgasme sambil menutup mulut dengan tangan sendiri, kakinya gemetar hebat.
Rio berdiri, membuka celananya dengan cepat. Penisnya sudah tegak keras, ujungnya basah oleh cairan pra-ejakulasi. Dia mengangkat salah satu kaki Ibu Rini, menyandarkannya ke meja dapur, lalu memasukkan penisnya dalam satu dorongan kuat.
“Ahhh!” Ibu Rini menjerit kecil, tapi langsung menutup mulutnya lagi.
Rio mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme cepat. Suara benturan daging mereka bercampur dengan desahan pelan Ibu Rini. Dapur yang sempit membuat semuanya terasa lebih intim dan berbahaya. Setiap dorongan membuat payudara Ibu Rini berguncang di balik baju kurung yang sudah terbuka kancing atasnya.
“Bu… kamu makin ketat… enak banget…” bisik Rio di telinga Ibu Rini.
Ibu Rini memeluk leher Rio, jilbabnya sedikit miring tapi masih menutupi rambutnya. “Cepat Nak… Ibu mau keluar lagi…”
Rio mempercepat, tangannya meremas pantat Ibu Rini keras. Beberapa dorongan lagi, Ibu Rini orgasme kedua, vaginanya berdenyut kuat memijat penis Rio. Itu cukup untuk membuat Rio mencapai puncak. Dia menarik keluar tepat waktu, menyemprotkan sperma hangat ke paha dalam Ibu Rini, meninggalkan jejak putih yang mengalir pelan.
Mereka berpelukan sambil terengah-engah. Ibu Rini tersenyum lemah. “Kamu nakal sekali… di dapur segala.”
Rio mencium keningnya. “Besok lagi ya, Bu?”
Ibu Rini mengangguk pelan. “Tapi hati-hati. Jangan sampai ketahuan.”
Sejak hari itu, pertemuan mereka semakin sering dan semakin berani.
Beberapa hari kemudian, Rio mengajak Ibu Rini ke kebun kelapa milik pamannya yang jarang dikunjungi orang. Di bawah pohon kelapa yang rindang, dengan angin sepoi-sepoi dan suara burung berkicau, mereka berbaring di atas tikar yang Rio bawa.
Ibu Rini melepas jilbabnya untuk pertama kalinya di depan Rio – rambut hitam panjangnya terurai, membuat wajahnya terlihat lebih muda dan liar. Rio terpana. “Bu… cantik sekali…”
Ibu Rini tersenyum malu, lalu menarik Rio ke atasnya. Mereka berciuman lama, tangan saling menjelajah. Kali ini, Ibu Rini yang mengambil inisiatif. Dia membuka kancing baju Rio, mencium dada dan perutnya, lalu turun lebih rendah. Dengan tangan gemetar, dia memegang penis Rio, mengelusnya pelan sebelum memasukkannya ke mulut.
Rio mendesah keras. Mulut Ibu Rini hangat dan basah, lidahnya berputar di sekitar kepala penis. Dia mengisap dengan ritme lambat tapi dalam, sesekali menatap ke atas melihat ekspresi Rio yang penuh kenikmatan.
“Bu… enak sekali… jangan berhenti…” erang Rio.
Ibu Rini terus mengisap sampai Rio hampir mencapai puncak, tapi dia berhenti tepat waktu. “Belum, Nak. Ibu mau merasakan kamu dulu.”
Dia naik ke atas Rio, memandu penisnya masuk ke dalam vaginanya yang sudah sangat basah. Ibu Rini menggerakkan pinggulnya naik-turun dengan lambat dulu, lalu semakin cepat. Payudaranya yang terlepas dari bra bergoyang-goyang di depan wajah Rio. Rio meraihnya, mengisap puting yang mengeras sambil tangannya memegang pinggul Ibu Rini membantu gerakan.
Mereka bergerak seperti binatang yang kelaparan. Suara desahan mereka bercampur dengan suara daun kelapa yang bergoyang. Ibu Rini orgasme dua kali berturut-turut, tubuhnya bergetar hebat setiap kali. Akhirnya Rio tidak tahan lagi – dia membalikkan posisi, menindih Ibu Rini di atas tikar, dan mendorong dengan kuat beberapa kali sebelum menyemprotkan di dalamnya.
Mereka berbaring di bawah pohon, keringat bercucuran, saling tersenyum.
Pertemuan selanjutnya semakin berani lagi.
Suatu malam, saat Pak Hadi sedang ke kota untuk dua hari, Rio datang ke rumah Ibu Rini tepat setelah maghrib. Mereka makan malam bersama seperti pasangan biasa, tapi setelah anak-anak tidur, mereka pindah ke ruang tamu.
Di sofa panjang, dengan lampu redup, Ibu Rini duduk di pangkuan Rio. Jilbabnya masih terpasang rapi, tapi baju kurungnya sudah terbuka lebar. Rio menciumi leher dan dada Ibu Rini sambil tangannya bermain di antara paha. Ibu Rini menggerakkan pinggulnya menggosok penis Rio yang masih tertutup celana.
“Bu… aku mau coba sesuatu,” bisik Rio.
Ibu Rini mengangguk, matanya penuh rasa ingin tahu.
Rio membalikkan tubuh Ibu Rini, membuatnya berlutut di sofa dengan tangan bertumpu di sandaran. Dari belakang, Rio menyingkap rok Ibu Rini, menurunkan celana dalamnya, lalu memasukkan penisnya perlahan dari posisi doggy style.
“Ah… Nak… dalam sekali…” desah Ibu Rini.
Rio memegang pinggul Ibu Rini, mulai mendorong dengan ritme stabil. Setiap dorongan membuat pantat bulat Ibu Rini berguncang. Rio meraih rambut Ibu Rini yang terlepas dari jilbab, menariknya pelan agar kepala Ibu Rini terangkat. Pemandangan itu membuat Rio semakin liar – wanita berjilbab yang biasanya sopan, kini berlutut di depannya, menerima setiap dorongan dengan penuh nafsu.
“Lebih keras, Nak… Ibu suka…” pinta Ibu Rini dengan suara bergetar.
Rio mempercepat, tangannya meremas payudara dari belakang. Suara benturan semakin keras, tapi mereka berusaha tetap pelan agar tidak membangunkan anak-anak. Ibu Rini orgasme dengan mulut tertutup rapat, tubuhnya mengejang. Rio mengikuti tak lama kemudian, menyemprotkan di dalam dengan dorongan terakhir yang dalam.
Mereka ambruk di sofa, berpelukan erat. Ibu Rini mencium pipi Rio. “Kamu bikin Ibu lupa diri, Nak.”
Rio tersenyum. “Aku juga, Bu. Ini belum selesai.”
Dan memang belum. Pertemuan mereka semakin sering – di kebun, di rumah saat suami pergi, bahkan sekali di gudang belakang toko Rio saat hujan deras. Setiap kali, nafsu mereka semakin membara, posisi semakin beragam, dan batasan semakin tipis.
Tapi di balik kenikmatan itu, ada bayang-bayang ketakutan. Suami Ibu Rini mulai curiga dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba lebih ceria, lebih sering berdandan, dan kadang pulang terlambat dari “belanja”. Anak-anak juga mulai bertanya kenapa ibu sering tersenyum sendiri.
Rio dan Ibu Rini tahu, ini tidak akan bertahan selamanya. Tapi untuk saat ini, mereka memilih menikmati setiap detik yang mereka curi.
Waktu berlalu cepat, hampir tiga bulan sejak pertemuan pertama di rumah Ibu Rini. Apa yang awalnya hanya godaan sesaat telah menjadi rutinitas rahasia yang menyita hampir setiap celah waktu luang mereka. Tapi kehidupan nyata tidak pernah diam. Rio mulai mendapat tawaran pekerjaan tetap di kota sebagai supervisor di sebuah gudang distribusi besar. Gajinya lumayan, cukup untuk membangun masa depan. Dia harus pindah ke kota dalam dua minggu ke depan. Sementara itu, Ibu Rini juga sibuk. Anak sulungnya akan ujian nasional, Pak Hadi mulai sering pulang lebih awal karena musim panen selesai, dan Ibu Rini sendiri ikut aktif di pengajian ibu-ibu di masjid setiap sore.
Pertemuan mereka mulai jarang. Dari hampir setiap hari, menjadi dua kali seminggu, lalu seminggu sekali. Pesan singkat masih ada, tapi semakin singkat, semakin hati-hati. Rio sering merasa gelisah. Dia tahu ini harus berakhir, tapi hatinya belum siap melepaskan.
Suatu sore, hujan deras mengguyur desa. Rio menutup toko lebih awal karena banjir kecil di jalan utama. Dia langsung menuju rumah Ibu Rini, berjalan cepat di bawah payung yang hampir tidak berguna. Begitu sampai, dia mengetuk pintu belakang seperti biasa. Ibu Rini membuka pintu dengan cepat, wajahnya basah oleh air hujan yang menetes dari jilbabnya.
“Nak Rio… masuk cepat, basah semua,” katanya sambil menarik Rio masuk.
Di dalam, rumah terasa sepi. Anak-anak sedang di rumah nenek, Pak Hadi sedang rapat di balai desa sampai malam. Hujan deras membuat suara gemuruh di atap seng, menutupi segala suara di dalam rumah.
Mereka berdiri di ruang tengah, saling pandang. Ada sesuatu yang berbeda di mata Ibu Rini hari itu – campuran rindu, sedih, dan keputusan yang sudah matang.
“Bu… aku mau bilang sesuatu,” mulai Rio, suaranya pelan.
Ibu Rini mengangguk. “Ibu tahu. Kamu mau pindah ke kota, kan?”
Rio terkejut. “Kok Bu tahu?”
“Ibu dengar dari ibu-ibu di pasar. Selamat ya, Nak. Ini kesempatan bagus buat masa depanmu.”
Rio menunduk. “Tapi… aku nggak mau ini berakhir gini aja, Bu.”
Ibu Rini tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. “Nak… kita sudah kelewat jauh. Ibu takut kalau terus begini, suatu saat ketahuan. Anak-anak, suami… Ibu nggak mau hancurkan keluarga Ibu. Kamu juga harus punya hidup sendiri, cari yang seumuran, yang bisa dinikahi.”
Rio mendekat, memeluk Ibu Rini erat. “Tapi Bu… aku sayang sama Bu.”
Ibu Rini membalas pelukan, air matanya jatuh ke bahu Rio. “Ibu juga sayang sama kamu, Nak. Makanya… hari ini kita akhiri dengan baik. Biar kenangannya indah.”
Mereka berciuman di tengah ruangan. Ciuman itu berbeda – bukan lagi penuh nafsu liar, tapi penuh kelembutan, seperti perpisahan yang dalam. Bibir mereka saling menyentuh pelan, lidah bertemu dengan lembut, seolah ingin menghafal rasa satu sama lain.
Rio mengangkat Ibu Rini perlahan, membawanya ke kamar tidur. Mereka tidak buru-buru. Rio meletakkan Ibu Rini di ranjang dengan hati-hati, lalu mulai melepas jilbabnya perlahan. Rambut hitam panjang Ibu Rini terurai, dan Rio mencium keningnya, lalu mata, hidung, pipi, bibir lagi.
“Bu cantik sekali,” bisik Rio.
Ibu Rini tersenyum, tangannya membelai wajah Rio. “Kamu juga ganteng, Nak. Ibu beruntung pernah punya kamu, walau cuma sebentar.”
Mereka saling melepas pakaian dengan pelan. Baju kurung Ibu Rini terlepas satu per satu, bra hitamnya dilepas, payudaranya yang besar terbebas. Rio menciumnya lembut, bukan mengisap rakus seperti biasa, tapi menjilat dan mencium putingnya dengan penuh perasaan. Ibu Rini mendesah pelan, tangannya membelai rambut Rio.
“Lebih pelan hari ini, Nak… biar Ibu bisa ngerasain setiap detiknya,” bisik Ibu Rini.
Rio turun lebih rendah, mencium perut Ibu Rini, lalu pinggul, lalu paha dalam. Dia membuka kaki Ibu Rini perlahan, menatap vagina yang sudah basah karena rindu. Lidahnya menyentuh klitoris dengan lembut, menjilat naik-turun dengan gerakan lambat. Ibu Rini menggeliat pelan, tangannya memegang seprai.
“Ah… Nak… enak… terus…” desahnya.
Rio terus menjilat, sesekali memasukkan satu jari ke dalam, menggerakkannya perlahan sambil lidahnya memijat klitoris. Ibu Rini orgasme pertama dengan tenang, tubuhnya mengejang pelan, napasnya tersengal, tapi tidak ada jeritan keras seperti biasanya. Hanya desahan panjang yang penuh rasa.
Setelah itu, Ibu Rini menarik Rio naik, menciumnya lagi, merasakan rasa dirinya sendiri di bibir Rio. Dia membalikkan posisi, membuat Rio berbaring telentang. Dengan tangan lembut, Ibu Rini mengelus penis Rio yang sudah keras, lalu menurunkan mulutnya, mengisap pelan, lidahnya berputar di sekitar kepala. Rio mendesah, tangannya membelai rambut Ibu Rini.
“Bu… aku kangen mulutmu…” katanya pelan.
Ibu Rini mengisap lebih dalam, tapi tetap lambat, seolah ingin memperpanjang momen. Setelah beberapa menit, dia naik ke atas Rio, memandu penisnya masuk ke dalam vaginanya yang hangat dan basah. Mereka bergerak bersama dalam ritme lambat, seperti menari. Ibu Rini naik-turun pelan, pinggulnya berputar lembut, membuat penis Rio merasakan setiap inci dinding vaginanya.
Mereka saling tatap mata. Tidak ada kata-kata kotor, tidak ada permintaan “lebih keras” atau “lebih dalam”. Hanya tatapan penuh cinta dan penyesalan.
“Bu… aku nggak akan lupa ini,” bisik Rio.
“Ibu juga, Nak. Kamu orang pertama yang bikin Ibu merasa hidup lagi setelah bertahun-tahun,” jawab Ibu Rini, suaranya bergetar.
Mereka terus bergerak, semakin dalam, semakin dekat. Payudara Ibu Rini bergoyang pelan di depan wajah Rio. Dia meraihnya, mencium dan mengisap lembut. Ibu Rini mempercepat sedikit, tapi tetap terkendali. Napas mereka semakin cepat, tapi tetap pelan.
Akhirnya, Ibu Rini orgasme lagi, vaginanya berdenyut kuat memijat penis Rio. Rio tidak tahan lagi. Dia memeluk pinggang Ibu Rini erat, mendorong beberapa kali pelan tapi dalam, lalu melepaskan di dalamnya. Sperma hangat menyemprot pelan, mengisi Ibu Rini sepenuhnya. Mereka berdua mengejang bersama, saling memeluk erat, tidak ingin melepaskan.
Setelah itu, mereka berbaring berdampingan, telanjang, saling berpelukan. Hujan masih deras di luar, tapi di dalam kamar terasa hangat.
“Janji ya, Nak… setelah kamu pindah, kita nggak kontak lagi. Biar masing-masing move on,” kata Ibu Rini pelan.
Rio menelan ludah. “Susah, Bu…”
“Tapi harus. Demi kita berdua. Ibu nggak mau kamu terikat sama masa lalu. Cari yang lebih baik.”
Rio mengangguk pelan, meski hatinya sakit. “Iya, Bu. Terima kasih… atas semuanya.”
Ibu Rini mencium kening Rio untuk terakhir kali. “Ibu juga terima kasih, Nak. Kamu bikin Ibu ingat lagi rasanya dicintai.”
Mereka berbaring sampai hujan reda. Lalu Rio bangun, berpakaian, dan bersiap pulang. Di depan pintu belakang, mereka berpelukan sekali lagi – pelukan terakhir.
“Jaga diri ya, Bu,” kata Rio.
“Kamu juga, Nak. Semoga sukses di kota.”
Rio berjalan pergi di bawah langit yang mulai cerah. Dia tidak menoleh lagi. Di dalam rumah, Ibu Rini menutup pintu, bersandar di dinding, dan menangis pelan.
Itu adalah hubungan seks terakhir mereka. Setelah itu, Rio pindah ke kota. Ibu Rini kembali ke rutinitasnya – istri, ibu, dan wanita berjilbab yang sopan di mata tetangga. Mereka tidak pernah bertemu lagi, tidak pernah saling kontak. Tapi di hati masing-masing, kenangan itu tetap hidup – manis, panas, dan sedih sekaligus.
Akhir dari cerita mereka.