Rina adalah seorang wanita berusia 28 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dasar swasta, mengajar anak-anak tentang nilai-nilai agama dan moral. Rina selalu tampil sopan dengan jilbab panjangnya yang menutupi dada, rok panjang hingga mata kaki, dan blus lengan panjang yang tak pernah memperlihatkan lekuk tubuhnya. Wajahnya cantik, dengan kulit putih mulus, mata hitam yang tajam, dan bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Bagi tetangga dan rekan kerjanya, Rina adalah teladan wanita Muslimah yang taat, selalu shalat tepat waktu, dan menghindari segala bentuk gosip atau skandal.
Tapi di balik penampilan itu, Rina menyimpan rahasia yang tak seorang pun tahu. Ia merasa bosan dengan rutinitasnya yang monoton. Suaminya, yang bekerja sebagai pegawai kantor, sering bepergian ke luar kota untuk urusan bisnis, meninggalkannya sendirian di rumah sederhana mereka. Malam-malam panjang itu membuat Rina gelisah. Ia mulai menjelajahi dunia maya, membaca cerita-cerita erotis di forum online, dan diam-diam membayangkan petualangan yang tak pernah ia alami. Jilbabnya adalah pelindung, tapi juga penjara bagi hasrat yang terpendam.
Jamil, di sisi lain, adalah pria berusia 32 tahun yang bekerja sebagai teknisi komputer freelance. Tubuhnya atletis, dengan tinggi 180 cm, kulit sawo matang, dan rambut pendek yang rapi. Ia tinggal di apartemen kecil di pusat kota, tak jauh dari sekolah Rina. Jamil dikenal sebagai pria yang ramah tapi misterius, sering membantu tetangga memperbaiki gadget mereka. Ia tak pernah menikah, lebih memilih hidup bebas tanpa ikatan. Di malam hari, Jamil sering menghabiskan waktu di kafe-kafe malam, mencari teman bicara atau sesuatu yang lebih intim. Ia tak pernah menduga bahwa pertemuannya dengan Rina akan mengubah segalanya.
Semuanya dimulai pada suatu sore hujan di bulan Ramadan. Rina sedang mengajar kelas tambahan di sekolah ketika laptopnya tiba-tiba mati. Ia panik karena semua materi pelajaran ada di sana. Rekan kerjanya merekomendasikan Jamil, yang kebetulan sedang berada di sekitar sekolah untuk memperbaiki komputer guru lain. "Dia handal, Mbak Rina. Cepat dan murah," kata rekan itu.
Jamil datang tepat waktu, mengenakan kemeja lengan pendek yang memperlihatkan otot lengannya yang kuat. Rina menyambutnya di ruang guru, dengan jilbab hitamnya yang rapi dan senyum sopan. "Terima kasih sudah datang, Mas Jamil. Laptop saya ini mendadak mati," kata Rina sambil menyerahkan perangkat itu.
Jamil tersenyum, matanya sekilas melirik wajah Rina yang cantik di balik jilbab. "Nggak masalah, Mbak. Saya cek dulu." Ia duduk di sebelah Rina, membuka laptop, dan mulai bekerja. Udara di ruangan itu lembab karena hujan di luar, dan Rina merasa sedikit gugup berada dekat dengan pria asing seperti ini. Biasanya, ia menghindari kontak mata yang terlalu lama, tapi ada sesuatu pada Jamil yang membuatnya penasaran. Aroma parfumnya yang maskulin menyusup ke hidung Rina, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Saat Jamil memperbaiki, ia menemukan bahwa hard drive laptop Rina penuh dengan file-file aneh. Ada folder tersembunyi yang berisi cerita-cerita dewasa yang Rina unduh dari internet. Jamil tak sengaja membukanya saat memeriksa virus. Matanya melebar melihat judul-judul seperti "Malam Panas di Balik Hijab" dan "Hasrat Terlarang Guru Muda". Ia melirik Rina, yang wajahnya langsung memerah.
"Mbak, ini... ada file yang sebaiknya dihapus kalau nggak mau virus nyebar," kata Jamil dengan suara pelan, tapi ada nada menggoda di sana.
Rina panik. "Jangan... jangan lihat itu, Mas! Itu... itu bukan punya saya. Mungkin anak murid yang iseng." Tapi matanya tak bisa berbohong. Ia merasa malu tapi juga terangsang oleh situasi ini. Jamil, yang biasanya profesional, merasa ada peluang. "Tenang, Mbak. Saya nggak akan bilang siapa-siapa. Malah, saya suka baca yang begitu juga kadang-kadang."
Percakapan mereka berlanjut setelah laptop selesai. Hujan semakin deras, dan Jamil menawarkan untuk mengantar Rina pulang karena suaminya sedang keluar kota. Rina ragu, tapi akhirnya setuju. Di dalam mobil Jamil, udara terasa panas meski AC menyala. Mereka bicara tentang kehidupan sehari-hari, tapi topiknya lambat laun bergeser ke hal-hal pribadi.
"Mbak Rina, kalau boleh tahu, kenapa suka baca cerita begitu? Kayaknya Mbak orang yang taat banget," tanya Jamil sambil menyetir.
Rina menunduk, jarinya memainkan ujung jilbabnya. "Entahlah, Mas. Hidup saya terlalu biasa. Suami sering pergi, dan saya... merasa kesepian." Kata-kata itu keluar tanpa sengaja, membuat Rina terkejut sendiri.
Jamil tersenyum. "Saya paham. Saya juga sendirian. Kadang butuh sesuatu yang... berbeda." Ia memarkir mobil di depan rumah Rina, tapi hujan tak kunjung reda. "Mau nunggu di dalam dulu, Mbak? Saya bisa nemenin."
Rina mengangguk, hatinya berdebar. Mereka masuk ke rumah yang sepi. Rina menyuguhkan teh hangat, dan mereka duduk di ruang tamu. Pembicaraan semakin intim. Jamil menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan wanita, sementara Rina mendengarkan dengan mata berbinar. Tanpa sadar, tangan Jamil menyentuh lengan Rina saat ia mengambil gelas teh. Sentuhan itu seperti listrik, membuat Rina bergidik.
"Mas... ini nggak boleh," bisik Rina, tapi suaranya lemah.
Jamil mendekat, napasnya hangat di telinga Rina. "Kenapa? Kita sama-sama dewasa. Nggak ada yang tahu." Ia mencium pipi Rina di balik jilbab, membuat wanita itu mengerang pelan.
Rina tak bisa menolak lagi. Hasrat yang terpendam selama bertahun-tahun meledak. Ia membiarkan Jamil menariknya ke pelukan. Ciuman pertama mereka panas dan penuh gairah. Bibir Jamil menekan bibir Rina, lidahnya menjelajah mulut wanita itu. Rina merespons dengan rakus, tangannya memeluk leher Jamil.
Jamil mulai melepas kancing blus Rina, memperlihatkan bra putih yang menutupi payudara montoknya. "Cantik sekali, Mbak," gumam Jamil sambil mencium leher Rina. Jilbab masih menempel di kepala Rina, membuat kontras yang erotis antara kesopanan dan nafsu.
Rina mengerang saat tangan Jamil meremas payudaranya. "Ah... Mas... jangan... tapi lanjutkan." Ia merasa basah di antara pahanya. Jamil menarik Rina ke kamar tidur, melemparnya ke kasur dengan lembut. Ia melepas celana jeansnya sendiri, memperlihatkan tonjolan besar di celana dalamnya.
Rina menatapnya dengan mata lapar. "Besaaar..." bisiknya. Jamil tersenyum dan mendekat, melepas rok panjang Rina. Celana dalam Rina sudah basah kuyup. Jamil menyentuhnya di sana, jarinya menggosok klitoris Rina melalui kain tipis itu.
"Oh... Mas... enak sekali," erang Rina, pinggulnya bergoyang. Jamil melepas celana dalam Rina, memperlihatkan vagina yang dicukur rapi, berwarna pink dan mengkilap karena cairan.
Ia menunduk dan menjilatnya. Lidah Jamil menari di bibir vagina Rina, menyedot klitorisnya hingga Rina menjerit. "Aaaah! Mas Jamil... aku mau keluar!" Tubuh Rina menegang, dan ia orgasme untuk pertama kalinya dalam bulan-bulan ini, cairannya membasahi mulut Jamil.
Jamil tak berhenti. Ia bangkit dan melepas celana dalamnya, memperlihatkan penisnya yang panjang dan tebal, sekitar 18 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Rina menelan ludah, tangannya meraihnya dan mulai mengocok pelan. "Masukin, Mas... aku pengen ngerasain."
Jamil tersenyum dan memposisikan diri di antara paha Rina. Ia mendorong pelan, kepala penisnya memasuki vagina Rina yang ketat. "Ugh... sempit banget, Mbak." Rina mengerang kesakitan tapi juga kenikmatan. "Pelan-pelan, Mas... ahhh!"
Jamil mulai bergerak, maju mundur dengan ritme lambat dulu, lalu semakin cepat. Payudara Rina bergoyang-goyang, jilbabnya masih rapi di kepala, membuat pemandangan itu semakin menggairahkan. "Enak, Mbak? Kamu suka penis aku?" tanya Jamil sambil menarik puting Rina.
"Iya... suka banget! Lebih besar dari suamiku... aaaah!" jawab Rina, kakinya melingkar di pinggang Jamil, mendorongnya lebih dalam.
Mereka berganti posisi. Rina naik ke atas, menunggangi Jamil seperti kuda liar. Jilbabnya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. Tangan Jamil meremas pantat Rina yang bulat, jarinya menyusup ke anusnya sedikit, membuat Rina terkejut tapi terangsang lebih.
"Aku mau keluar lagi, Mas!" jerit Rina saat orgasme kedua datang. Vaginanya menjepit penis Jamil erat, membuat pria itu hampir mencapai klimaks.
Jamil membalikkan tubuh Rina, memposisikannya doggy style. Ia menarik rambut di balik jilbab Rina, menarik kepalanya ke belakang sambil menusuk dari belakang. "Kamu pelacur berjilbab ya, Mbak? Suka disetubuhi orang lain?"
Rina mengangguk, air matanya menetes karena kenikmatan. "Iya... aku pelacurmu, Mas! Setubuhi aku keras!"
Jamil mempercepat gerakannya, penisnya menghantam dinding vagina Rina berulang kali. Akhirnya, ia menarik keluar dan menyemprotkan spermanya ke punggung Rina, yang putih dan lengket.
Mereka berbaring kelelahan, napas tersengal. Rina memeluk Jamil, jilbabnya masih menempel. "Ini rahasia kita ya, Mas."
Jamil mencium keningnya. "Tentu. Tapi ini baru awal."
Malam itu, setelah Jamil pulang, Rina mandi dan shalat malam, tapi pikirannya penuh dengan kenangan panas itu. Ia tahu ini salah, tapi ia tak bisa berhenti. Besok, ia akan bertemu Jamil lagi, mungkin di tempat yang lebih berisiko.
Keesokan harinya, Rina kembali ke sekolah dengan penampilan seperti biasa. Tapi di dalam hatinya, ada api yang menyala. Saat istirahat, ia menerima pesan dari Jamil: "Mau ketemu lagi malam ini? Di hotel dekat sekolah."
Rina ragu sejenak, tapi jarinya mengetik balasan: "Iya. Aku tunggu."
Malam tiba, dan Rina menyelinap keluar rumah setelah suaminya menelepon bahwa ia akan pulang besok. Ia naik taksi ke hotel murah yang Jamil sebutkan. Di kamar, Jamil sudah menunggu dengan botol anggur halal dan lilin-lilin menyala.
"Kamu datang juga," kata Jamil sambil memeluk Rina dari belakang.
Rina melepas jilbabnya pelan, rambut panjangnya terurai. "Aku nggak bisa nolak kamu, Mas."
Mereka mulai lagi, kali ini lebih liar. Jamil mengikat tangan Rina ke kepala tempat tidur dengan scarf dari jilbabnya sendiri. "Kamu suka diikat ya?" tanya Jamil sambil mencium seluruh tubuh Rina.
Rina menggelinjang. "Iya... perlakukan aku kasar, Mas."
Jamil menjilat vagina Rina lagi, tapi kali ini ia menyusupkan jari ke anusnya juga. Rina menjerit kenikmatan. "Oh God... enak sekali!"
Setelah Rina basah, Jamil memasuki vaginanya dari depan, sambil menarik rambutnya. Gerakannya cepat dan dalam, membuat tempat tidur berderit. "Kamu ketagihan ya, Mbak? Penis aku bikin kamu lupa suami."
Rina mengangguk, air liurnya menetes. "Iya... aku milikmu sekarang."
Mereka orgasme bersama, sperma Jamil mengisi vagina Rina kali ini. Setelah itu, mereka mandi bersama, Jamil menyabuni tubuh Rina, jarinya menjelajah setiap inci.
Tapi petualangan ini baru permulaan. Rina mulai merencanakan pertemuan berikutnya, mungkin di sekolah saat malam hari. Ia tak tahu bahwa ini akan membawa mereka ke situasi yang lebih berbahaya.
Beberapa hari kemudian, suami Rina pulang lebih awal. Rina berpura-pura seperti biasa, tapi malam itu, saat suaminya tidur, Rina menyelinap ke kamar mandi dan menelepon Jamil. "Aku kangen, Mas. Besok ketemu di mana?"
Jamil tertawa pelan. "Di masjid dekat rumahmu. Saat tarawih."
Ide itu gila, tapi Rina setuju. Saat tarawih, Rina duduk di bagian wanita, jilbabnya rapi. Jamil di bagian pria. Setelah shalat, mereka bertemu di belakang masjid, di tempat gelap.
"Di sini? Berani banget," bisik Rina.
Jamil menariknya ke semak-semak. "Justru itu yang bikin seru." Ia mencium Rina dengan ganas, tangannya menyusup ke bawah rok Rina, meraba vaginanya yang sudah basah.
Rina mengerang pelan. "Cepat, Mas... sebelum orang lihat."
Jamil melepas celananya dan memasuki Rina dari belakang, sambil berdiri. Gerakannya cepat, tangannya menutup mulut Rina agar tak berteriak. "Ssshh... nikmati saja."
Rina orgasme dengan cepat, tubuhnya gemetar. Jamil menyusul, menyemprotkan di pantat Rina.
Mereka berpisah dengan cepat, tapi hasrat semakin membara.
Pertemuan-pertemuan seperti ini berlanjut. Di mobil Jamil, di taman malam, bahkan di ruang guru sekolah saat lembur. Setiap kali, Rina semakin berani. Ia mulai memakai lingerie di bawah jilbabnya, mengejutkan Jamil.
Suatu malam, di apartemen Jamil, mereka mencoba hal baru. Jamil membawa vibrator kecil. "Coba ini, Mbak."
Rina ragu, tapi saat vibrator menyentuh klitorisnya, ia langsung mengerang keras. "Aaaah! Gila... enak banget!"
Jamil memasukkan penisnya sambil vibrator masih bergetar. Sensasi ganda membuat Rina orgasme berkali-kali, air matanya mengalir.
"Aku cinta kamu, Mas," bisik Rina tanpa sadar.
Jamil terkejut, tapi ia membalas ciuman. "Aku juga."
Tapi rahasia ini mulai terancam. Rekan kerja Rina melihat ia sering tersenyum sendiri, dan suaminya mulai curiga dengan pesan-pesan misterius di ponsel Rina.