Asiknya Rekan Sekantor 2


Setelah malam penuh gairah itu, hubungan Doni dan Mbak Devi tidak berhenti. Malah semakin membara. Suami Mbak Devi, Pak Andi, memang sering keluar kota untuk urusan bisnisnya, dan itu menjadi celah emas bagi mereka. Mbak Devi mulai lebih sering mengirim pesan singkat ke Doni di tengah hari kerja, sekadar “Lunch bareng nggak?” atau “Meeting room 3 kosong nih.” Doni selalu paham kode itu.

Di kantor, mereka berusaha tetap profesional di depan orang lain. Mbak Devi masih dengan jilbab panjangnya yang rapi, gamis longgar, dan senyum sopan saat menyapa rekan kerja. Doni pun tetap seperti biasa: ramah, membantu, dan tidak pernah menunjukkan apa pun yang mencurigakan. Tapi di balik itu, tatapan mereka sering bertemu lebih lama dari seharusnya, dan senyum kecil yang hanya mereka pahami.

Minggu pertama setelah kejadian itu, mereka mulai mencuri waktu kecil-kecilan. Kadang di pantry saat jam istirahat siang, Mbak Devi berdiri dekat Doni sambil membuat kopi, tangannya sengaja menyentuh punggung Doni sekilas. Atau saat lift penuh orang, Mbak Devi berdiri di belakang Doni, jarinya diam-diam mengusap pinggang Doni dari balik kemeja. Sensasi kecil itu sudah cukup membuat darah mereka berdesir.

Tapi yang paling berani terjadi pada hari Rabu sore, dua minggu setelah malam pertama.

Hari itu kantor sedang sepi karena sebagian besar karyawan ikut acara gathering divisi lain di hotel. Hanya tersisa beberapa orang di lantai mereka, termasuk Doni dan Mbak Devi yang “terpaksa” lembur menyelesaikan revisi proposal mendadak. Jam menunjukkan pukul 17.30, dan ruangan mulai hening. Petugas kebersihan sudah pulang, security hanya sesekali lewat di lantai bawah.

Mbak Devi masuk ke ruang arsip kecil di ujung koridor—ruangan yang jarang dipakai, penuh dengan lemari arsip tua dan tumpukan kotak dokumen. Doni mengikuti beberapa menit kemudian, pura-pura mencari dokumen lama.

Pintu ruang arsip ditutup pelan, dikunci dari dalam. Cahaya lampu neon kuning redup, udara agak pengap karena jarang dibuka.

“Sudah lama aku pengen coba di sini,” bisik Mbak Devi sambil tersenyum nakal. Matanya berbinar, berbeda dari wajah tenangnya yang biasa.

Doni mendekat, tangannya langsung memeluk pinggang Mbak Devi dari belakang. “Mbak berani banget sekarang ya,” goda Doni sambil mencium leher Mbak Devi dari balik jilbab.

Mbak Devi memutar badan, langsung mencium bibir Doni dengan ganas. Ciuman mereka panas, lidah saling bertaut, napas tersengal. Tangan Doni naik ke dada Mbak Devi, meremas payudaranya dari luar gamis. Meski tertutup kain tebal, Doni bisa merasakan puting yang sudah mengeras.

“Mbak… payudara Mbak keras banget,” bisik Doni di sela ciuman.

Mbak Devi mendesah pelan. “Don… cepat… aku udah basah dari tadi.”

Doni tidak buang waktu. Dia angkat gamis Mbak Devi sampai pinggang, tangannya menyusup ke dalam celana dalam. Jarinya langsung menemukan vagina yang sudah licin. Mbak Devi menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara terlalu keras.

“Ahh… Don… jari kamu… enak…” desah Mbak Devi sambil memejamkan mata.

Doni memasukkan dua jari, memompa perlahan sambil ibu jarinya menggosok klitoris. Mbak Devi memegang bahu Doni erat, pinggulnya bergoyang mengikuti irama. Cairan gairahnya menetes ke jari Doni, membuat suara licin yang samar di ruangan sunyi itu.

Doni berlutut, mengangkat satu kaki Mbak Devi ke bahunya. Gamis masih terangkat, celana dalam diturunkan sampai lutut. Wajah Doni dekat sekali dengan vagina Mbak Devi yang sudah membengkak karena gairah. Bibir vaginanya merah muda, klitorisnya menonjol kecil, dan bulu halusnya basah.

Doni menjilat sekali, lidahnya menyapu dari bawah ke atas. Mbak Devi menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya menegang. “Don… ohh… jangan berhenti…”

Doni melahap vagina Mbak Devi dengan rakus. Lidahnya berputar di klitoris, kadang menyedotnya pelan, kadang menjilat bibir vagina sampai ke lubangnya. Mbak Devi menggelinjang, tangannya menarik rambut Doni. “Don… aku… mau keluar… ahh!”

Dia orgasme cepat, cairan hangat menyembur ke mulut Doni. Tubuh Mbak Devi bergetar hebat, tapi Doni terus menjilat sampai getaran itu reda.

Doni berdiri, membuka resleting celananya. Penisnya sudah tegang maksimal, kepalanya mengkilap karena precum. Mbak Devi melihatnya dengan mata lapar.

“Mbak mau di mana?” tanya Doni sambil menggesekkan penisnya ke paha Mbak Devi.

Mbak Devi menoleh ke meja arsip tua di sudut. “Di situ… aku mau duduk.”

Doni mengangkat Mbak Devi ke atas meja arsip. Kotak-kotak dokumen ditepikan, gamis Mbak Devi terbuka lebar. Mbak Devi membuka kancing atas gamisnya, bra hitamnya terlihat. Doni langsung menarik bra ke atas, payudara Mbak Devi terbebas. Putingnya cokelat gelap, mengeras seperti batu kecil.

Doni menciumi dan mengisap puting kiri sambil tangannya meremas yang kanan. Mbak Devi mendesah panjang, “Don… hisap lebih keras… ya…”

Doni menggigit pelan puting itu, membuat Mbak Devi mengerang. “Ahh… sakit… tapi enak…”

Doni memposisikan penisnya di depan vagina Mbak Devi. Dia mendorong pelan, kepala penis masuk dengan mudah karena sudah sangat basah. Mbak Devi memeluk leher Doni, kakinya melingkar di pinggang Doni.

“Masukin semuanya, Don… aku mau ngerasa penuh,” bisik Mbak Devi.

Doni mendorong sampai habis. Vagina Mbak Devi ketat, memeluk penis Doni erat. Mereka diam sejenak, menikmati sensasi saling terhubung. Lalu Doni mulai bergerak, memompa perlahan dulu.

“Enak… Mbak… vagina Mbak selalu enak banget,” desah Doni.

Mbak Devi membalas dengan menggerakkan pinggulnya. “Don… lebih cepat… aku mau keras…”

Doni mempercepat ritme. Meja arsip berderit pelan setiap kali Doni mendorong kuat. Payudara Mbak Devi bergoyang-goyang liar, Doni menangkapnya dengan mulut, mengisap puting bergantian. Mbak Devi menutup mulutnya sendiri agar tidak terlalu keras, tapi desahannya tetap terdengar.

“Ahh… Don… dalem banget… pukul rahim aku… ya…”

Doni memompa lebih dalam, lebih cepat. Tubuh mereka beradu pelan, suara kulit bertemu kulit bercampur dengan derit meja. Mbak Devi merasakan orgasme kedua mendekat.

“Don… aku mau keluar lagi… bareng ya…”

Doni mengangguk, gerakannya semakin liar. “Aku juga, Mbak… mau keluar di dalam lagi…”

Mereka orgasme hampir bersamaan. Mbak Devi menegang, vaginanya berkedut kuat memijat penis Doni. Doni menyemburkan spermanya dalam-dalam, hangat dan banyak, sampai beberapa tetes menetes keluar dari vagina Mbak Devi.

Mereka berpelukan erat, napas tersengal. Doni masih di dalam, tidak mau cepat-cepat keluar.

“Mbak… ini gila… tapi aku ketagihan,” bisik Doni.

Mbak Devi mencium bibir Doni lembut. “Aku juga, Don. Tapi kita harus hati-hati. Kalau ketahuan…”

Mereka membersihkan diri seadanya dengan tisu yang ada di ruangan itu. Mbak Devi merapikan gamis dan jilbabnya, wajahnya kembali tenang seperti biasa. Doni membantunya menyisir rambut yang acak-acakan di balik jilbab.

Mereka keluar dari ruang arsip bergantian, pura-pura tidak saling kenal. Di koridor, Mbak Devi berjalan duluan, Doni mengikuti beberapa langkah di belakang. Saat melewati ruang meeting, Mbak Devi berhenti sejenak, menoleh ke Doni, dan mengedipkan mata pelan.

Malam itu, di apartemen masing-masing, mereka saling kirim pesan.

Mbak Devi: “Tadi deg-degan banget, tapi enak sekali. Besok lagi?”

Doni: “Besok meeting room 4 jam 1 siang. Mbak bawa tissue lebih banyak ya.”

Mbak Devi hanya balas dengan emoji tertawa dan api.

Sejak saat itu, kantor menjadi tempat bermain baru mereka. Kadang di ruang print yang terkunci, kadang di tangga darurat saat jam makan siang, kadang di mobil Doni di basement parkir yang gelap. Mereka selalu mencari celah, selalu mencuri waktu, dan selalu membuat satu sama lain ketagihan.

Tapi semakin sering, semakin berisiko. Suami Mbak Devi mulai curiga karena istrinya sering lembur akhir-akhir ini. Dan suatu hari, security kantor mulai sering bertanya-tanya kenapa ruang arsip sering dikunci dari dalam.

Apa yang akan terjadi ketika rahasia mulai retak?


Bulan-bulan berlalu, dan apa yang awalnya hanya ledakan gairah sesaat ternyata tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam—dan lebih berbahaya. Doni dan Mbak Devi tidak pernah berhenti. Mereka tidak berjanji apa-apa, tidak membicarakan masa depan, tapi juga tidak pernah berusaha berhenti. Justru sebaliknya: mereka semakin pintar menyembunyikannya.

Di kantor, mereka seperti dua aktor profesional dalam drama panjang. Mbak Devi tetap Mbak Devi yang sempurna: senior yang tegas tapi ramah, selalu tepat waktu, jilbabnya selalu rapi menutup dada, gamisnya longgar tapi tetap elegan. Doni pun demikian: karyawan teladan, membantu semua orang, sering bercanda ringan dengan rekan kerja lain. Tidak ada yang curiga. Bahkan ketika mereka berpapasan di koridor, hanya ada senyum sopan dan anggukan kecil—tapi mata mereka saling bicara dalam bahasa yang hanya mereka pahami.

Mereka punya aturan tak tertulis:

  1. Tidak pernah chat mesra di aplikasi kantor atau WhatsApp biasa. Semua lewat aplikasi chat anonim yang bisa dihapus otomatis setelah 24 jam.
  2. Tidak pernah berdua keluar kantor bersamaan. Selalu beda 10–15 menit.
  3. Jika ada meeting berdua, selalu ada alasan kerja yang jelas dan didokumentasikan.
  4. Di rumah, Mbak Devi selalu memastikan suaminya tidak curiga dengan rutinitas kecil: masak makanan favorit Pak Andi saat dia pulang, kirim foto makanan ke grup keluarga, dan selalu jawab telepon suaminya dengan suara ceria meski baru saja selesai bersama Doni.

Dan mereka berhasil. Sangat berhasil.

Suatu Jumat malam, kantor sudah kosong lebih awal karena hari libur panjang. Mbak Devi mengirim pesan singkat: “Gudang lantai 2. 30 menit lagi.”

Doni datang duluan, membuka pintu gudang kecil yang jarang dipakai—tempat penyimpanan alat tulis cadangan dan beberapa peralatan kantor lama. Lampu hanya satu bohlam kecil di atas, suasana remang-remang. Bau kertas tua dan sedikit debu.

Mbak Devi masuk lima menit kemudian, langsung mengunci pintu. Dia melepas tas selempangnya, lalu menatap Doni dengan mata yang sudah penuh hasrat.

“Suamiku besok pagi baru pulang dari Surabaya,” katanya pelan sambil mendekat. “Malam ini aku milikmu sepenuhnya.”

Doni tidak bicara banyak. Dia langsung menarik Mbak Devi ke pelukannya. Ciuman mereka langsung panas, lidah saling bertaut, napas cepat. Tangan Doni menarik jilbab Mbak Devi perlahan—bukan melepas sepenuhnya, tapi cukup untuk memperlihatkan leher dan rambut di belakang telinga. Dia mencium dan menggigit leher Mbak Devi pelan, meninggalkan tanda kecil yang besok bisa ditutupi dengan jilbab.

Mbak Devi mendesah, tangannya membuka kancing kemeja Doni satu per satu. “Don… aku kangen badan kamu…”

Doni angkat gamis Mbak Devi sampai pinggang, tangannya langsung menyusup ke celana dalam. Vaginanya sudah basah sekali, licin dan hangat. Jari Doni memainkan klitorisnya dengan gerakan melingkar, membuat Mbak Devi menggelinjang.

“Ahh… Don… pelan… nanti kedengeran…”

Doni tersenyum di leher Mbak Devi. “Di sini nggak ada yang denger, Mbak. Santai aja.”

Dia berlutut, menarik celana dalam Mbak Devi turun sampai mata kaki. Vagina Mbak Devi terbuka lebar di depan wajahnya—bibirnya membengkak, klitoris kecilnya menonjol, cairan bening menetes pelan. Doni menjilat sekali panjang, dari bawah ke atas, lalu menyedot klitorisnya pelan.

Mbak Devi menutup mulut dengan tangan kanan, tangan kirinya menarik rambut Doni. “Don… lidah kamu… ohh… enak banget… terus…”

Doni memasukkan dua jari, memompa cepat sambil lidahnya terus berputar di klitoris. Mbak Devi orgasme dalam waktu singkat—tubuhnya menegang, pinggulnya bergetar, cairan hangat menyembur ke mulut Doni. Dia menggigit jarinya sendiri agar tidak berteriak.

Doni berdiri, membuka celananya. Penisnya sudah keras sekali, urat-uratnya menonjol, kepalanya basah oleh precum. Mbak Devi langsung berlutut, menggenggam penis itu dengan tangan kanan, lalu memasukkannya ke mulut.

Dia mengisap pelan dulu, lidahnya berputar di kepala penis, lalu semakin dalam sampai menyentuh tenggorokan. Doni mendesah, tangannya memegang kepala Mbak Devi—bukan memaksa, tapi mengikuti irama.

“Mbak… mulut Mbak… panas banget… ahh…”

Mbak Devi mengisap lebih cepat, tangannya memijat buah zakar Doni. Dia menatap ke atas, mata mereka bertemu—penuh nafsu dan keintiman yang aneh. Doni hampir keluar, tapi dia tarik penisnya keluar.

“Aku mau di dalam Mbak,” bisiknya.

Mbak Devi berdiri, membalik badan, tangannya bertumpu ke rak gudang. Dia angkat gamisnya tinggi-tinggi sampai punggung. Pantatnya yang bulat terlihat jelas, celah pantatnya menggoda. Doni menggesekkan penisnya di antara celah itu dulu, lalu ke vagina.

Dia mendorong pelan—masuk sepenuhnya dalam satu dorongan halus. Mbak Devi mengerang pelan, “Don… penuh… dalem banget…”

Doni mulai memompa, pelan tapi dalam. Setiap dorongan membuat payudara Mbak Devi bergoyang di balik bra dan gamis. Doni meraih dari belakang, membuka kancing depan gamis, menarik bra ke atas. Payudara montok itu terbebas, putingnya mengeras. Doni meremasnya keras sambil terus memompa.

“Ahh… Mbak… payudara Mbak… empuk banget… enak diremas…”

Mbak Devi membalas dengan menggerakkan pinggulnya ke belakang, menyambut setiap dorongan. “Don… lebih cepat… aku mau keras… pukul aku…”

Doni mempercepat. Suara pantat bertemu pangkal paha terdengar pelan di gudang sunyi itu—plok… plok… plok… diselingi desahan mereka yang tertahan.

Mbak Devi orgasme lagi, vaginanya berkedut kuat memijat penis Doni. “Don… aku keluar… lagi… ahh!”

Doni tidak tahan. Dia mendorong beberapa kali lagi, lalu menyemburkan spermanya dalam-dalam. Hangat, banyak, sampai menetes keluar dari sela-sela vagina Mbak Devi ketika Doni menarik penisnya perlahan.

Mereka berpelukan dari belakang, napas tersengal. Doni mencium tengkuk Mbak Devi. “Mbak… aku nggak bisa berhenti.”

Mbak Devi memutar badan, mencium bibir Doni lembut. “Aku juga, Don. Tapi kita harus pintar. Selalu.”

Mereka membersihkan diri dengan tisu basah yang selalu Mbak Devi bawa sekarang—kebiasaan baru. Mbak Devi merapikan jilbab, gamis, dan wajahnya kembali tenang. Doni memakai kemeja, merapikan rambut.

Mereka keluar bergantian seperti biasa. Malam itu, Mbak Devi pulang ke apartemennya yang kosong, mandi, lalu tidur dengan senyum tipis. Doni ke rumahnya, mandi, lalu tidur sambil memikirkan Mbak Devi.

Hari-hari berikutnya, pola itu berlanjut. Kadang di mobil Doni di basement parkir setelah jam kerja, dengan kaca film gelap. Mbak Devi naik ke pangkuan Doni di kursi belakang, gamisnya terangkat, mereka bercinta pelan sambil mobil bergoyang ringan. Kadang di kamar hotel murah dekat kantor saat jam makan siang panjang—hanya satu jam, tapi cukup untuk dua ronde cepat. Kadang di rumah Mbak Devi saat suaminya dinas luar kota berhari-hari—mereka bercinta di setiap sudut: sofa, dapur, kamar mandi, bahkan di balkon saat malam hujan.

Mereka semakin kreatif menyembunyikan jejak. Mbak Devi selalu memakai parfum yang sama seperti biasa, tidak pernah meninggalkan barang Doni di rumah. Doni tidak pernah meninggalkan bekas kecupan di tempat yang terlihat. Mereka bahkan punya “kode darurat”: jika salah satu merasa ada yang curiga, mereka langsung berhenti kontak selama seminggu.

Tapi hasrat itu tidak pernah padam. Malah semakin kuat. Setiap kali bertemu, ada rasa rindu yang aneh—bukan hanya nafsu tubuh, tapi juga keintiman yang tumbuh diam-diam. Mbak Devi mulai bercerita tentang masa kecilnya, tentang perasaannya yang kadang kosong meski sudah berumah tangga. Doni mendengarkan, kadang memeluknya setelah bercinta, tanpa bicara apa-apa.

Suatu malam, setelah bercinta panjang di apartemen Mbak Devi, mereka berbaring telanjang di ranjang. Mbak Devi memakai jilbabnya lagi—kebiasaan tidurnya—tapi tubuhnya menempel erat ke Doni.

“Don… kalau suatu hari suamiku tahu?” tanyanya pelan.

Doni diam sejenak. “Kita hadapi bareng. Tapi sekarang… aku cuma mau nikmatin Mbak setiap hari.”

Mbak Devi tersenyum kecil, mencium dada Doni. “Aku juga.”

Dan begitulah mereka terus berjalan—di antara kebohongan kecil, senyum palsu di kantor, dan malam-malam penuh gairah yang disembunyikan rapat. Rahasia mereka masih utuh, masih aman.

Tapi rahasia besar seperti ini… selalu punya akhir. Entah kapan, entah bagaimana.